Jenis Puisi Indonesia Dilihat dari Periode: Puisi Lama, Puisi Modern, dan Puisi Mutakhir

>> 20/02/14

Yuni Budiawati*


Seperti yang telah dibahas dalam makalah sebelumnya yaitu tentang pengertian, hakikat, dan perkembangan puisi di Indonesia. Dijelaskan bahwa puisi berasal dari bahasa Yunani ‘poema’ yang berarti membuat dan ‘poesis’ yang berarti pembuat pembangun atau pembentuk. Sedangkan menurut Tjahyono, puisi dikatakan sebagai pembangun atau pembentuk karena memang pada dasarnya dengan menciptakan seuntai puisi maka seorang penyair telah membangun, membuat atau membentuk sebuah dunia baru, secara lahir maupun batin (Primadeka, Makalah, 2014).

Pada makalah ini akan membahas tentang puisi sesuai dengan periodenya seperti puisi lama, modern, dan mutakhir. Namun karena ada beberapa sumber yang menjelaskan lebih lanjut tentang pembagian puisi menurut periodenya yaitu puisi baru pada pembagian puisi menurut periode, maka pemakalah pun menambah pembahasan tersebut. Adapun penjelasan lebih lanjut tentang pembagian tersebut akan dibahas pada materi makalah di bawah ini.

PUISI LAMA

Puisi lama bersifat statis dan sangat terlihat sekali menunjukkan penggambaran keadaan dan kebiasaan masyarakat itu sendiri, puisi tersebut dipengaruhi oleh karya sastra bangsa Arab, Persia, dan India. Ciri paling umum dari puisi lama adalah penyebarannya yang cepat melalui mulut ke mulut, karena memang mayoritas masyarakat pada zaman itu masih buta huruf. Maka, banyak yang tidak diketahui siapa pengarangnya.

Puisi lama masih terikat oleh aturan-aturan. Di mana aturan-aturan itu antara lain: jumlah kata dalam satu baris, jumlah baris dalam satu bait, rima, banyaknya suku kata dalam baris, dan irama.

Ciri-ciri puisi lama:
  • Merupakan puisi rakyat yang tidak dikenal siapa pengarangnya
  • Merupakan sastra lisan karena disampaikan dari mulut ke mulut
  • Terikat dengan aturan seperti jumlah bait, baris, suku kata, dan rima
Puisi lama terbagi menjadi beberapa jenis sesuai dengan periode: yaitu mantra, gurindam, syair, dan pantun.

1. Mantra

Mantra adalah salah satu jenis puisi lama. Mantra dianggap memiliki kekuatan gaib, biasanya digunakan oleh pawang atau dukun, untuk menandingi kekuatan gaib yang lain.

Pengertian mantra menurut para ahli:
  • Mantra ditujukan kepada makhluk gaib, maka kalau dihadapkan pada manusia itu menjadi sesuatu yang tidak dipahami atau sesuatu yang misterius (Yunut, 1981: 213-216).
  • Mantra merupakan bentuk puisi lama yang mempunyai atau dianggap dapat mendatangkan kekuatan gaib yang biasanya diajarkan atau diucapkan oleh pawang untuk menandingi kekuatan yang lain (Suprapto, 1993: 48).
  • Mantra adalah perkataan atau ucapan yang mendatangkan daya gaib, susunan kata yang berunsur puisi (rima, irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain (Depdikbud, 1997: 558).
Mantra disebut sebagai puisi lama karena memiliki unsur seperti puisi (rima dan irama). Dalam masyarakat Melayu, mantra sangat terkenal sekali seperti halnya puisi dan syair, hanya penggunaannya yang ekslusif yaitu untuk orang-orang tertentu saja. Masyarakat Melayu memiliki nama sebutan untuk mantra seperti jampi, serapah, tawar, sembur, cuca, puja, seru, dan tangkal.

Mantra sebenarnya lebih merujuk kepada puisi bebas karena tidak terikat dengan baris, rima dan irama, meskipun unsur tersebut ada. Bahasa yang digunakan dalam mantra sangat sulit diterjemahkan, terkadang dukun dan pawang juga tidak mengerti maksud dari kalimat mantra tersebut, mereka hanya mengerti kapan harus membaca mantra tersebut.

Berdasarkan tujuan pelafalannya, mantra dibagi menjadi empat jenis, yaitu:

a. Mantra Pelindung Diri: digunakan untuk penjaga diri, disebut juga sebagai penangkal, biasanya dibacakan pada benda tertentu, sehingga benda tersebut memiliki kekuatan gaib dan dapat melindungi si pemiliknya. Jenisnya ada beberapa macam seperti; penahan atau penguat, pelindung, penunduk, pemanis atau pengasih, dan pembenci.

Contoh mantra penunduk buaya:

Hai si jambu rakai
Sambutlah
pekiriman putri
Runduk di gunung
Ledang
Embacang masak sebiji bulat
Penyikat tujuh penyikat
Pengarang tujuh pengarang
Diorak dikembang jangan
Kalau kau sambut
Dua hari jalan ketiga
Ke darat kau dapat makan
Ke laut kau dapat aku
Aku tau asal kau jadi
Tanah liat asal kau jadi
Tulang buku tebu asal kau jadi
Darah kau gila, dada kau upih 

b. Mantra Pengobatan: mantra ini digunakan untuk mengobati penyakit, masyarakat Melayu percaya bahwa sebenarnya penyakit itu datangnya tidak hanya dari faktor alam saja, tetapi juga ada pengaruh gaib, sehingga dengan membacakan mantra maka akan dapat mempercepat sembuhnya penyakit.

c. Mantra Pekerjaan: mantra ini digunakan untuk mempermudah pekerjaan, biasanya diucapkan sebelum memulai pekerjaan. Pekerjaan yang biasanya dibacakan mantra adalah pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari seperti berternak, bercocok tanam, berburu, melaut, dan sebagainya.
Jenis-jenis mantra untuk pekerjaan adalah; mantra semangat padi, mantra untuk tanaman jagung, mantra menanam benih, mantra pengusir hama tikus, dan lain-lain.

d. Mantra Adat-istiadat: mantra ini biasanya digunakan saat ada upacara adat di suatu daerah, dan dibacakan oleh orang-orang tertentu seperti orang yang dihormati atau dipercaya oleh penduduk setempat, pawang atau dukun.


2. Gurindam

Adalah puisi yang berisikan nasehat, terdiri dari dua baris dalam setiap baitnya. Semuanya merupakan isi dan mengandung sebab akibat. Salah satu gurindam yang terkenal adalah yang ditulis oleh Raja Ali Haji yang berjudul “Gurindam dua belas”, di antaranya yaitu:
I
Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang ma'rifat

Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari

Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang terpedaya

Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat

II
Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut

Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang

Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua temasya

Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat

Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji

III
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita

Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping

Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat daripadanya faedah

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan

Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senonoh

Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi
(Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Gurindam_Dua_Belas, akses 4 Februari 2014).

3. Syair

Berasal dari bahasa Arab yang berarti sajak (puisi), dengan ciri tiap bait ada empat baris bersajak a-a-a-a, berisi nasehat atau cerita (Waluyo, 2002: 49-50). Semua baris adalah isi dan biasanya tidak selesai dalam satu bait karena merupakan alur sebuah cerita.

Contoh:
Lalulah berjalan Ken Tambuhan
diiringkah penglipur dengan tadahan
lemah lembut berjalan perlahan-lahan
lakunya manis memberi kasihan
...
(Perintis sastra, 1951)


4. Pantun

Adalah puisi lama yang bercirikan rima a-b-a-b, tiap bait ada 4 baris, tiap baris ada 8-12 suku kata, dua baris awal sebagai sampiran dan dua baris di akhir sebagai isi.

Pantun juga memiliki jenis-jenis sendiri, yaitu:

a. Pantun Biasa

Contoh:
Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukan ke dalam hati

b. Pantun Berkait (Seloka), pantun ini tidak hanya cukup dengan satu bait, karena berkaitan dengan bait selanjutnya.

Ciri-ciri puisi seloka :
  • Baris kedua dan keempat pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait kedua
  • Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait ketiga
Contoh:

Warna merah menghias buku
Indah nian kian ku pandang
Anak kecil menangis sendu
Seharian ia tak makan

Indah nian kian ku pandang
Kalau boleh tentu ku mau
Seharian ia tak makan
Adakah besuk nasi dan lauk

Kalau boleh tentu ku mau
Namun sayang itu milikmu
Adakah besuk nasi dan lauk
Walau sekedar pengganjal perut

c. Talibun, adalah pantun yang jumlah barisnya harus lebih dari empat baris, tetapi harus genap bisa 6, 8, 10 baris atau lebih. Jika satu bait terdiri dari enam baris, maka tiga baris pertama sampiran dan tiga baris terakhir isi, begitu seterusnya. Jika ada enam baris dalam satu bait, maka rimanya a-b-c-a-b-c dan seterusnya.

Contoh :

Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli     (sampiran)
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari     (isi)
Induk semang cari dahulu

d. Karmina, disebut juga sebagai pantun kilat karena jumlahnya yang pendek.

Ciri-cirinya adalah:
  • Setiap bait terdiri dari 2 baris
  • Baris pertama merupakan sampiran
  • Baris kedua merupakan isi
  • Bersajak a – a
  • Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
Contoh :

Dahulu parang sekarang besi (a)
Dahulu sayang sekarang benci (a)

Sedangkan jika dilihat dari isinya, pantun terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

a. Pantun Anak-anak

Contoh :
Elok rupanya si kumbang jati
Dibawa itik pulang petang
Tidak terkata besar hati
Melihat ibu sudah datang

b. Pantun Orang Muda

Contoh :
Tanam melati di rama-rama
Ubur-ubur sampingan dua
Sehidup semati kita bersama
Satu kubur kelak berdua

c. Pantun Orang Tua

Contoh :
Asam kandis asam gelugur
Kedua asam riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang

d. Pantun Jenaka

Contoh :
Elok rupanya pohon belimbing
Tumbuh dekat pohon mangga
Elok rupanya berbini sumbing
Biar marah tertawa juga


PUISI BARU

Puisi baru lahir pada angkatan pujangga baru. Di mana pada saat itu puisi mengalami perubahan pesat dan bertentangan dengan puisi lama. Karena gaya hidup dan corak masyarakat yang juga mengalami perubahan sehingga mempengaruhi gaya puisi pada masa itu.

Puisi pada angkatan pujangga baru ini dipengaruhi oleh soneta yang dibawa dari Belanda ke Indonesia oleh Muhammad Yamin dan Roestam Effendi. Soneta dalam bahasa Italia berasal dari kata ‘sonneto’perubahan dari kata ‘sono’ yang berarti suara. Soneta adalah puisi yang terdiri dari empat belas baris yang dibagi dua, dua bait pertama masing-masing empat baris dan dua bait terakhir masing-masing tiga baris.

Contoh Soneta karya Muhammad Yamin:
GEMBALA

Perasaan siapa ta ‘kan nyala (a)
Melihat anak berelagu dendang (b)
Seorang saja di tengah padang (b)
Tiada berbaju buka kepala (a)

Beginilah nasib anak gembala (a)
Berteduh di bawah kayu nan rindang (b)
Semenjak pagi meninggalkan kandang (b)
Pulang ke rumah di senja kala (a)

Jauh sedikit sesayup sampai (a)
Terdengar olehku bunyi serunai (a)
Melagukan alam nan molek permai (a)

Wahai gembala di segara hijau (c)
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau (c)
Maulah aku menurutkan dikau (c)

Adapun jenis puisi baru dilihat dari bentuknya, antara lain:

a. Distikon, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas dua baris (puisi dua seuntai).

Contoh:
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal

Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)

b. Terzina, puisi yang tiap baitnya terdiri atas tiga baris (puisi tiga seuntai).

Contoh:
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana

Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
(Sanusi Pane)

c. Kuatrain, puisi yang tiap baitnya terdiri atas empat baris (puisi empat seuntai).

Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau

Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)

d. Kuint, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas lima baris (puisi lima seuntai).

Contoh:
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan

Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan

Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)

e. Sektet, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas enam baris (puisi enam seuntai).

Contoh:
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernapas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)

f. Septime, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas tujuh baris (tujuh seuntai).
Contoh:
INDONESIA TUMPAH DARAHKU

Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
                        (Mohammad Yamin)
g. Oktaf/Stanza, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas delapan baris (double kutrain atau puisi delapan seuntai). Contoh:
AWAN

Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
Ciri khas dari puisi baru adalah di mana dalam puisi tersebut nampak sifat egois dari si penyair yang ditunjukkan bagi pihak Belanda yang sedang menjajah. Seperti contoh puisi baru dari Sutan Takdir Alisjahbana:
Betapa Seni
Ah, dunia! dunia!
Saya pusing di atas kau
Adakah sudah suratan saya
Akan selalu menghimbau-himbau?
Ya Allah! Illahi!
Tuhanku... 
Selain Sutan Takdir Alisjahbana, ada beberapa tokoh puisi pada angkatan pujangga baru yang terkenal seperti Ali Hasjmy, Muhammad Yamin, Sanusi Pane, Amir Hamzah, Y.E Tatengkeng, dan Rustam Effendi.


PUISI MODERN

Puisi modern hadir saat penjajah Jepang datang ke Indonesia yaitu pada periode angkatan 1945. Kedatangan Jepang memberikan angin baru bagi rakyat Indonesia, di mana mereka diperbolehkan memakai bahasa Indonesia, berbeda saat masa penjajahan Belanda yang melarang penggunaan bahasa Indonesia. Sehingga kesempatan tersebut dipergunakan oleh para penyair sebagai senjata dalam melawan penjajah Jepang. Isi dari puisi modern banyak mengangkat tentang pemberontakan yang lebih dalam jika dibandingkan dengan angkatan pujangga baru.

Disebut sebagai puisi modern karena puisi modern lebih menekankan pada isi puisi tersebut. Puisi modern lebih bebas dari pada puisi lama yang terikat dari jumlah suku kata, baris, maupun rima. Penyair puisi modern termasuk kategori dalam angkatan '45, salah satu tokohnya adalah Chairil Anwar yang dinobatkan oleh H.B. Jassin pelopor puisi modern. Dalam puisi Chairil Anwar yang berjudul “Aku” dia sudah menggunakan bahasa Indonesia yang ekspresif, terbebas dari bahasa Melayu maupun Belanda, dan puisinya memiliki gaya khas yang hanya dimiliki oleh Chairil Anwar.

Ciri-ciri Puisi Modern:
  • Bentuknya rapi, simetris
  • Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);
  • Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;
  • Sebagian besar puisi empat seuntai;
  • Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
  • Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.

Contoh puisi modern dari Chairil Anwar (Waluyo, 2002: 67).
DERAI-DERAI CEMARA

Cemara menderai sampai jauh,
Terasa hari akan jadi malam,
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh,
dipukul angin yang terpedam

aku sekarang orangnya bisa tahan,
sudah berapa waktu bukan kanak lagi,
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
sebelum pada akhirnya kita menyerah
(kerikil tajam, 1946)

PUISI MUTAKHIR

Puisi Mutakhir bisa disebut dengan puisi kontemporer yang lahir pada tahun 1970-an sampai sekarang, disebut juga puisi kekinian.

Setiap langkah awal periode puisi selalu mendapat pertentangan dari penyair periode sebelumnya, begitu juga dengan munculnya puisi kontemporer ini. Para angkatan pujangga baru yang masih hidup di tahun 1966-1970-an pada awalnya tidak menerima keberadaan puisi kontemporer ini. Mereka berpendapat bahwa puisi itu bukan berasal dari penyair yang sesungguhnya, bahkan mereka menganggap puisi tersebut dibuat oleh orang-orang yang tidak pantas sebagai penyair.

Pada kenyataannya, puisi kontemporer ini merupakan hasil dari perkembangan puisi Indonesia. Tahapan dari karya puisi kontemporer tidah hanya mementingkan diri si penyair, tetapi tuntutan keharusan, kemestian dan kebenaran menjadi tahap yang utama dalam menciptakan sebuah puisi.

Tokoh-tokoh puisi kontemporer diantaranya adalah Sutardji Calzoum Bachri dan tokoh lainnya seperti Taufiq Ismail, Darmanto Jatman, dan Rendra.

Puisi mutakhir atau kontemporer ini bersifat puisi konkret dan ada puisi mantra mutakhir yang pertama kali diperkenalkan oleh Sutardji. Dalam Kredo puisi Sutardji (kritik sastra Sutardji dalam masalah penulisan) mengemukakan sikapnya dalam berpuisi, antara lain dia menyatakan:
‘kata-kata adalah pengertian itu sendiri. Kalau diumpamakan dengan kursi, maka kata adalah kursi itu sendiri bukan alat untuk duduk. Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika’ (Waluyo, 2002: 122).
Pengertian mutakhir tidak mungkin semata dibatasi oleh waktu khusus untuk sastra yang benar-benar hebat. Meskipun demukian sedikit banyak sastra mutakhir merupakan ancang-ancang bagi sastra masa depan (Budi Darma, 1990: 132).

Salah satu contoh puisi kontemporer:

SEPISAUPI
Sutardji Calzoum Bachri

sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau sunyi

sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul diri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisau-Nya ke dalam nyanyi

(O, Amuk, Kapak, 1981)


BATU
Sutardji Calzoum Bachri

batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
batu janun
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji ?
Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan
hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan
seribu beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh?
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampa mengapa gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk
diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai
sedang lambai tak sampai. Kau tahu
batu risau
batu pukau
batu Kau-ku
batu sepi
batu ngilu
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati
janji?


AKU INGIN
Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Hujan Bulan Juni, 1994)


Penyusunan puisi kontemporer sebagai puisi inkonvensional ternyata juga perlu memperhatikan beberapa unsur sebagai berikut:
  • Unsur bunyi; meliputi penempatan persamaan bunyi (rima) pada tempat-tempat tertentu untuk menghidupkan kesan dipadu dengan repetisi atau pengulangan-pengulangannya.
  • Tipografi; meliputi penyusunan baris-baris puisi berisi kata atau suku kata yang disusun sesuai dengan gambar (pola) tertentu.
  • Enjambemen; meliputi pemenggalan atau perpindahan baris puisi untuk menuju baris berikutnya.
  • Kelakar (parodi); meliputi penambahan unsur hiburan ringan sebagai pelengkap penyajian puisi yang pekat dan penuh perenungan (kontemplatif).

DAFTAR PUSTAKA

Elviana. "Analisis Struktur Mantra Mesosambakai sebagai Puisi Lama di Desa Matabubu Jaya Kecamatan Lainea Kabupaten Konawe Selatan." http://elvianapbsi.blogspot.com/2013/10/analisis-struktur-mantra-mesosambakai.html (akses 4 Februari 2014).

"Gurindam Dua Belas." http://id.wikipedia.org/wiki/Gurindam_Dua_Belas (akses 4 Februari 2014).

Jalil, Dianie Abdul. Teori dan Periodesasi Puisi Indonesia. Bandung: Angkasa, tt.

"Mengenal Mantra sebagai Bentuk Puisi Lama." http://goesprih.blogspot.com/2009/03/mengenal-mantra-sebagai-bentuk-puisi.html (akses 24 Januari 2014)

"Puisi." http://id.wikipedia.org/wiki/Puisi (akses 24 Januari 2014).

"Puisi Kontemporer." http://umanradieta.blogspot.com/2011/01/puisi-kontemporer.html (akses 24 Januari 2014).

"Puisi Lama, Baru, Modern, dan Kontemporer." http://sansolvix.wordpress.com/2011/12/11/puisi-lama-baru-modern-dan-kontemporer/ (akses 24 Januari 2014).

Rosidi, Ajip. Puisi Indonesia Modern. Jakarta: Pustaka Jaya, 2008.

Waluyo, Herman J. Apresiasi Puisi untuk Pelajar dan Mahasiswa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.


* Yuni Budiawati, mahasiswi Perbankan Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan pegiat FLAT, Foreign Languages Association.

6 komentar:

Lela Laelasari 6 Oktober 2016 pukul 21.58  

terima kasih atas ilmunya kakak. boleh minta di jelaskan lagi ngga kak materi puisi berdasarkan strukturnya yaitu puisi bebas, terikat, dan inkonvensional. terima kasih. salam sastra.

  © KOLIBÉT Komunitas Literasi Alfabét by Ourblogtemplates.com 2014

Log In